Tampilkan postingan dengan label Manfaat Nuklir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manfaat Nuklir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Wah, Darah Pekerja Nuklir Jepang Bisa Jadi Obat


Pekerja memperbaiki jaringan listrik di Pembangkit Listrik tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Tomioka, Prefektur Fukushima, timur laut Jepang.

Sampel darah para pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Daiichi di Fukushima, Jepang, seharusnya diambil dan disimpan sebagai antisipasi bila mereka terpapar radiasi tingkat tinggi dan membutuhkan transplantasi sel punca (sel induk, sel yang bisa menjadi sel jenis apa saja).

Peneliti Jepang mengatakan pengumpulan darah dari para pekerja itu dapat diolah menjadi sel punca mereka sendiri yang siap digunakan untuk menjadi "obat". Sel punca ini bisa membantu membangun kembali sumsum tulang yang rusak karena terkena radiasi tinggi.

"Bahaya paparan radiasi masih harus diwaspadai, karena hingga kini masih terus terjadi gempa susulan yang cukup serius," kata Dr Shuichi Taniguchi, dari Toranomon Hospital di Tokyo, dan Dr Tetsuya Tanimoto, dari Japanese Foundation for Cancer Research, dalam jurnal medis Lancet pekan lalu.

Para ilmuwan mengatakan tim transplantasi di Jepang dan Eropa telah siap mengambil serta menyimpan sel-sel para pekerja, tapi hingga saat ini Komisi Keselamatan Nuklir Jepang menolaknya. "Mereka beralasan hal itu akan menjadi beban fisik dan psikologis bagi para pekerja nuklir," kata Taniguchi.

Sel punca dari para pekerja ini diyakini bisa lebih manjur ketimbang menggunakan sel punca hasil donasi dari orang lain. Sel punca itu akan lebih cocok dan risiko ditolak oleh tubuh lebih rendah. Transplantasi sel punca dari selnya sendiri membuat para pekerja juga tak perlu mengasup obat-obatan untuk menekan sistem imun, sehingga dapat menangkal infeksi. Dengan cepat, sel-sel itu dapat memulihkan fungsi normal tubuh untuk memproduksi sel darah.

Sel para pekerja harus disimpan dalam bank sel bila suatu hari mereka mengidap leukemia, yang dapat terjadi bila mereka terpapar radiasi tinggi.

Tim peneliti itu mengakui bahwa solusi tersebut tidaklah sempurna. Tingginya paparan radiasi juga dapat menyerang sel-sel dalam perut, kulit, atau paru-paru, dan penyakit itu tak dapat disembuhkan dengan transplantasi sel punca.

Meski begitu, langkah untuk melindungi para pekerja dari bahaya radiasi di masa mendatang harus segera dilakukan karena upaya perbaikan dan pembersihan pembangkit yang rusak diperkirakan akan membutuhkan waktu lama. "Misi yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa para pekerja nuklir dan melindungi warga setempat," kata tim itu. "Pendekatan ini akan menjadi langkah pertahanan terbaik dalam industri itu: jika kecelakaan fatal terjadi pada pekerja nuklir, industri tenaga nuklir Jepang akan goyah."

Wah, Darah Pekerja Nuklir Jepang Bisa Jadi Obat


Pekerja memperbaiki jaringan listrik di Pembangkit Listrik tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Tomioka, Prefektur Fukushima, timur laut Jepang.

Sampel darah para pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Daiichi di Fukushima, Jepang, seharusnya diambil dan disimpan sebagai antisipasi bila mereka terpapar radiasi tingkat tinggi dan membutuhkan transplantasi sel punca (sel induk, sel yang bisa menjadi sel jenis apa saja).

Peneliti Jepang mengatakan pengumpulan darah dari para pekerja itu dapat diolah menjadi sel punca mereka sendiri yang siap digunakan untuk menjadi "obat". Sel punca ini bisa membantu membangun kembali sumsum tulang yang rusak karena terkena radiasi tinggi.

"Bahaya paparan radiasi masih harus diwaspadai, karena hingga kini masih terus terjadi gempa susulan yang cukup serius," kata Dr Shuichi Taniguchi, dari Toranomon Hospital di Tokyo, dan Dr Tetsuya Tanimoto, dari Japanese Foundation for Cancer Research, dalam jurnal medis Lancet pekan lalu.

Para ilmuwan mengatakan tim transplantasi di Jepang dan Eropa telah siap mengambil serta menyimpan sel-sel para pekerja, tapi hingga saat ini Komisi Keselamatan Nuklir Jepang menolaknya. "Mereka beralasan hal itu akan menjadi beban fisik dan psikologis bagi para pekerja nuklir," kata Taniguchi.

Sel punca dari para pekerja ini diyakini bisa lebih manjur ketimbang menggunakan sel punca hasil donasi dari orang lain. Sel punca itu akan lebih cocok dan risiko ditolak oleh tubuh lebih rendah. Transplantasi sel punca dari selnya sendiri membuat para pekerja juga tak perlu mengasup obat-obatan untuk menekan sistem imun, sehingga dapat menangkal infeksi. Dengan cepat, sel-sel itu dapat memulihkan fungsi normal tubuh untuk memproduksi sel darah.

Sel para pekerja harus disimpan dalam bank sel bila suatu hari mereka mengidap leukemia, yang dapat terjadi bila mereka terpapar radiasi tinggi.

Tim peneliti itu mengakui bahwa solusi tersebut tidaklah sempurna. Tingginya paparan radiasi juga dapat menyerang sel-sel dalam perut, kulit, atau paru-paru, dan penyakit itu tak dapat disembuhkan dengan transplantasi sel punca.

Meski begitu, langkah untuk melindungi para pekerja dari bahaya radiasi di masa mendatang harus segera dilakukan karena upaya perbaikan dan pembersihan pembangkit yang rusak diperkirakan akan membutuhkan waktu lama. "Misi yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa para pekerja nuklir dan melindungi warga setempat," kata tim itu. "Pendekatan ini akan menjadi langkah pertahanan terbaik dalam industri itu: jika kecelakaan fatal terjadi pada pekerja nuklir, industri tenaga nuklir Jepang akan goyah."

Minggu, 13 Maret 2011

Aneh! Manfaat dan Mudarat Nuklir Bagi Lingkungan dan Kesehatan Sama Besar!

Ledakan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepang seusai gempa jadi peringatan bagi Indonesia yang berencana membangun proyek serupa. Seberapa amankah dari sisi lingkungan dan kesehatan memiliki reaktor nuklir dan apa dampaknya jika terjadi kecelakaan?

Staf pengajar fisika reaktor dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dwi Satya Palupi, SSi, MSi mengatakan dampak terburuk dari kebocoran reaktor nuklir adalah radiasi. Dampak radiasi bisa meluas dan sangat sulit dikendalikan.

Bagi kesehatan, dampak radiasi nuklir juga tidak selalu muncul seketika. Adakalanya dampak serius seperti kanker baru akan muncul beberapa tahun kemudian, sehingga tidak bisa diantisipasi sejak dini karena memang tidak disadari oleh korban yang terpapar radiasi.

Meski belum yakin benar mengenai apa yang terjadi di PLTN Fukushima Jepang, Palupi yakin bahwa yang meledak bukan bahan bakar atau reaktornya. Sebab jika reaktor itu meledak, kedahsyatannya bisa menyamai ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

"Kemungkinan yang terjadi di Fukushima adalah pelepasan panas akibat rusaknya sistem pendingin, sehingga tampak seperti ledakan. Kalau bahan bakarnya saya kira kok kecil kemungkinannya (untuk meledak) karena sangat terisolasi," ungkap Palupi saat dihubungi detikHealth.

Risiko kebocoran reaktor juga menjadi keprihatinan organisasi pecinta lingkungan, Greenpeace. Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace untuk Asia Tenggara, Arif Fiyanto membantah keras jika instalasi nuklir dikatakan aman bagi lingkungan dan kesehatan.

Di negara maju seperti Jepang sekalipun, risiko kecelakaan nuklir selalu ada dan tidak hanya sekali ini saja terjadi. Gempa kecil pada tahun 2007 juga pernah memicu kebocoran salah satu reaktor nuklir milik Jepang, meski dampaknya tidak sebesar Chernobyl.

"Untuk yang terjadi di Fukushima terus terang kami juga masih memantau jadi belum bisa memastikan apa yang terjadi. Namun setidaknya kita, Indonesia bisa berkaca bahwa Jepang yang terkenal unggul soal mitigasi bencana sekalipun bisa mengalami kecelakaan nuklir. Bagaimana Indonesia mau mengantisipasi kejadian seperti di Jepang, sementara menangani tabung LPG 12 kg saja masih kedodoran," ungkap Arif.

Di Indonesia sendiri proyek PLTN tengah direncanakan untuk dibangun di kawasan Bangka-Belitung setelah sebelumnya rencana proyek PLTN Muria di Jawa Tengah ditangguhkan karena mendapat penolakan. Jawa Tengah dan Bangka-Belitung dinilai jauh dari lempeng gempa sehingga diperkirakan akan aman.

Penilaian ini dibenarkan oleh Palupi yang mengatakan bahwa kawasan ideal untuk membangun PLTN di Indonesia antara lain kawasan tengah Indonesia termasuk Kalimantan, serta sepanjang pantai utara Jawa. Perlu dipertimbangkan juga, instalasi nuklir harus berada pada jarak aman dengan kawasan pemukiman.

"Jarak aman untuk ditinggali tergantung dari besarnya kekuatan reaktor. Tapi saya yakin Indonesia juga tidak akan membangun yang terlalu besar sebab Jepang sendiri saat ini mulai beralih ke reaktor kecil-kecil tapi banyak, karena lebih efisien," tambah Palupi.

Bagi pendukung teknologi nuklir, PLTN dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber energi konvensional asal tidak bocor. Jika minyak bumi dan batubara bisa habis suatu saat nanti, uranium yang merupakan bahan bakarnya nuklir sangat efisien dan limbahnya masih bisa menghasilkan energi.

Namun bagi penentang nuklir, uranium tidak pernah masuk dalam kategori sumber energi terbarukan karena memang kenyataannya harus ditambang dan tidak bisa dibuat sendiri. Sumber energi yang terbarukan dan lebih disarankan oleh para pemerhati lingkungan hidup di antaranya adalah angin dan sinar matahari.

"Beberapa negara membangun PLTN karena memang tidak punya pilihan lain, sumber energi mereka terbatas. Indonesia kan punya iklim yang memungkinkan matahari bersinar sepanjang tahun, angin berhembus setiap saat. Nuklir justru bisa membebani karena Indonesia belum bisa mengolah uranium sendiri," kata Arif.

Bahaya lain dari kecelakaan nuklir menurut Arif adalah bahwa dampak radiasi nuklir bersifat inheren atau melekat. Berkaca dari tragedi Chernobyl, banyak warga yang masih merasakan dampaknya sampai sekarang meski peristiwanya sudah berlalu hampir 27 tahun silam.

Nuklir juga dipakai dalam kedokteran

Selain untuk pembangkit listrik, teknologi nuklir juga digunakan dalam dunia kesehatan terutama di bidang kedokteran nuklir. Pemanfaatan radioisotop mempermudah para dokter menemukan lokasi kanker tanpa harus membedahnya, sekaligus untuk membunuh sel-sel kanker lewat radioterapi.

Radioisotop juga dipakai untuk mensterilkan alat-alat kedokteran dari berbagai kuman penyebab penyakit. Teknologi ini biasanya digunakan untuk alat-alat kedokteran yang tidak tahan terhadap panas tinggi atau mudah bereaksi dengan senyawa kimia dalam cairan pembersih yang digunakan.

Risiko pemanfaatan nuklir di bidang kedokteran diminimalisir dengan memastikan agar dosis radiasi tidak melewati batas aman. Dokter juga akan memberi jeda waktu sebelum menjalani radioterapi atau pemeriksaan radiologi berikutnya agar sel-sel yang sehat tak menjadi rusak karena kebanyakan radiasi.

Aneh! Manfaat dan Mudarat Nuklir Bagi Lingkungan dan Kesehatan Sama Besar!

Ledakan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepang seusai gempa jadi peringatan bagi Indonesia yang berencana membangun proyek serupa. Seberapa amankah dari sisi lingkungan dan kesehatan memiliki reaktor nuklir dan apa dampaknya jika terjadi kecelakaan?

Staf pengajar fisika reaktor dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dwi Satya Palupi, SSi, MSi mengatakan dampak terburuk dari kebocoran reaktor nuklir adalah radiasi. Dampak radiasi bisa meluas dan sangat sulit dikendalikan.

Bagi kesehatan, dampak radiasi nuklir juga tidak selalu muncul seketika. Adakalanya dampak serius seperti kanker baru akan muncul beberapa tahun kemudian, sehingga tidak bisa diantisipasi sejak dini karena memang tidak disadari oleh korban yang terpapar radiasi.

Meski belum yakin benar mengenai apa yang terjadi di PLTN Fukushima Jepang, Palupi yakin bahwa yang meledak bukan bahan bakar atau reaktornya. Sebab jika reaktor itu meledak, kedahsyatannya bisa menyamai ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

"Kemungkinan yang terjadi di Fukushima adalah pelepasan panas akibat rusaknya sistem pendingin, sehingga tampak seperti ledakan. Kalau bahan bakarnya saya kira kok kecil kemungkinannya (untuk meledak) karena sangat terisolasi," ungkap Palupi saat dihubungi detikHealth.

Risiko kebocoran reaktor juga menjadi keprihatinan organisasi pecinta lingkungan, Greenpeace. Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace untuk Asia Tenggara, Arif Fiyanto membantah keras jika instalasi nuklir dikatakan aman bagi lingkungan dan kesehatan.

Di negara maju seperti Jepang sekalipun, risiko kecelakaan nuklir selalu ada dan tidak hanya sekali ini saja terjadi. Gempa kecil pada tahun 2007 juga pernah memicu kebocoran salah satu reaktor nuklir milik Jepang, meski dampaknya tidak sebesar Chernobyl.

"Untuk yang terjadi di Fukushima terus terang kami juga masih memantau jadi belum bisa memastikan apa yang terjadi. Namun setidaknya kita, Indonesia bisa berkaca bahwa Jepang yang terkenal unggul soal mitigasi bencana sekalipun bisa mengalami kecelakaan nuklir. Bagaimana Indonesia mau mengantisipasi kejadian seperti di Jepang, sementara menangani tabung LPG 12 kg saja masih kedodoran," ungkap Arif.

Di Indonesia sendiri proyek PLTN tengah direncanakan untuk dibangun di kawasan Bangka-Belitung setelah sebelumnya rencana proyek PLTN Muria di Jawa Tengah ditangguhkan karena mendapat penolakan. Jawa Tengah dan Bangka-Belitung dinilai jauh dari lempeng gempa sehingga diperkirakan akan aman.

Penilaian ini dibenarkan oleh Palupi yang mengatakan bahwa kawasan ideal untuk membangun PLTN di Indonesia antara lain kawasan tengah Indonesia termasuk Kalimantan, serta sepanjang pantai utara Jawa. Perlu dipertimbangkan juga, instalasi nuklir harus berada pada jarak aman dengan kawasan pemukiman.

"Jarak aman untuk ditinggali tergantung dari besarnya kekuatan reaktor. Tapi saya yakin Indonesia juga tidak akan membangun yang terlalu besar sebab Jepang sendiri saat ini mulai beralih ke reaktor kecil-kecil tapi banyak, karena lebih efisien," tambah Palupi.

Bagi pendukung teknologi nuklir, PLTN dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber energi konvensional asal tidak bocor. Jika minyak bumi dan batubara bisa habis suatu saat nanti, uranium yang merupakan bahan bakarnya nuklir sangat efisien dan limbahnya masih bisa menghasilkan energi.

Namun bagi penentang nuklir, uranium tidak pernah masuk dalam kategori sumber energi terbarukan karena memang kenyataannya harus ditambang dan tidak bisa dibuat sendiri. Sumber energi yang terbarukan dan lebih disarankan oleh para pemerhati lingkungan hidup di antaranya adalah angin dan sinar matahari.

"Beberapa negara membangun PLTN karena memang tidak punya pilihan lain, sumber energi mereka terbatas. Indonesia kan punya iklim yang memungkinkan matahari bersinar sepanjang tahun, angin berhembus setiap saat. Nuklir justru bisa membebani karena Indonesia belum bisa mengolah uranium sendiri," kata Arif.

Bahaya lain dari kecelakaan nuklir menurut Arif adalah bahwa dampak radiasi nuklir bersifat inheren atau melekat. Berkaca dari tragedi Chernobyl, banyak warga yang masih merasakan dampaknya sampai sekarang meski peristiwanya sudah berlalu hampir 27 tahun silam.

Nuklir juga dipakai dalam kedokteran

Selain untuk pembangkit listrik, teknologi nuklir juga digunakan dalam dunia kesehatan terutama di bidang kedokteran nuklir. Pemanfaatan radioisotop mempermudah para dokter menemukan lokasi kanker tanpa harus membedahnya, sekaligus untuk membunuh sel-sel kanker lewat radioterapi.

Radioisotop juga dipakai untuk mensterilkan alat-alat kedokteran dari berbagai kuman penyebab penyakit. Teknologi ini biasanya digunakan untuk alat-alat kedokteran yang tidak tahan terhadap panas tinggi atau mudah bereaksi dengan senyawa kimia dalam cairan pembersih yang digunakan.

Risiko pemanfaatan nuklir di bidang kedokteran diminimalisir dengan memastikan agar dosis radiasi tidak melewati batas aman. Dokter juga akan memberi jeda waktu sebelum menjalani radioterapi atau pemeriksaan radiologi berikutnya agar sel-sel yang sehat tak menjadi rusak karena kebanyakan radiasi.