Tampilkan postingan dengan label Sperma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sperma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

Astaga! Sperma Buatan Bisa Hasilkan Keturunan

Bagi kaum pria yang mempunyai gangguan yang menyebabkan infertilitas ada kabar baik. Penelitian di Jepang mengembangkan sperma buatan di laboratorium. Penemuan ini sebagai langkah awal untuk mengobati masalah infertilitas pada pria.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah "Nature," peneliti di Yokohama City University membudidayakan jaringan dari anak tikus selama beberapa minggu, dan mampu menciptakan sperma dari jaringan.

Para peneliti menggunakan fertilisasi in vitro untuk menghasilkan dua belas anak tikus dengan sperma yang dikembangkan. Bayi-bayi tikus ini akhirnya tumbuh dan mampu memiliki anak mereka sendiri. Ini menandakan sperma yang pertama kalinya diproduksi di laboratorium menghasilkan keturunan yang sehat dan berumur panjang.

Pada usaha-usaha sebelumnya dalam sperma buatan hanya menghasilkan keturunan yang sakit-sakitan yang cepat mati. "Ini adalah langkah kecil namun penting dalam memahami bagaimana sperma terbentuk, seiring dengan waktu, menyebabkan kita bisa mengembangkan sperma manusia dalam laboratorium," Allen Pacey, seorang profesor Universitas Sheffield di Inggris.

Artikel itu mencatat bahwa metode baru untuk menciptakan sperma buatan bisa membantu anak-anak muda yang harus melalui terapi kanker yang merusak kesuburan. Hal ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan potensi reproduksi spesies yang terancam punah.

Hal ini, seperti yang dikatakan Dr Pacey, langkah kecil menciptakan sperma dengan aplikasi manusia. "Ini adalah jelas penting untuk memastikan bahwa setiap sperma yang dihasilkan aman dan menghasilkan keturunan sehat ketika digunakan, dan bahwa mereka pada gilirannya memiliki keturunan yang sehat. Kita perlu berhati-hati dengan pekerjaan semacam ini," jelasnya.

Astaga! Sperma Buatan Bisa Hasilkan Keturunan

Bagi kaum pria yang mempunyai gangguan yang menyebabkan infertilitas ada kabar baik. Penelitian di Jepang mengembangkan sperma buatan di laboratorium. Penemuan ini sebagai langkah awal untuk mengobati masalah infertilitas pada pria.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah "Nature," peneliti di Yokohama City University membudidayakan jaringan dari anak tikus selama beberapa minggu, dan mampu menciptakan sperma dari jaringan.

Para peneliti menggunakan fertilisasi in vitro untuk menghasilkan dua belas anak tikus dengan sperma yang dikembangkan. Bayi-bayi tikus ini akhirnya tumbuh dan mampu memiliki anak mereka sendiri. Ini menandakan sperma yang pertama kalinya diproduksi di laboratorium menghasilkan keturunan yang sehat dan berumur panjang.

Pada usaha-usaha sebelumnya dalam sperma buatan hanya menghasilkan keturunan yang sakit-sakitan yang cepat mati. "Ini adalah langkah kecil namun penting dalam memahami bagaimana sperma terbentuk, seiring dengan waktu, menyebabkan kita bisa mengembangkan sperma manusia dalam laboratorium," Allen Pacey, seorang profesor Universitas Sheffield di Inggris.

Artikel itu mencatat bahwa metode baru untuk menciptakan sperma buatan bisa membantu anak-anak muda yang harus melalui terapi kanker yang merusak kesuburan. Hal ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan potensi reproduksi spesies yang terancam punah.

Hal ini, seperti yang dikatakan Dr Pacey, langkah kecil menciptakan sperma dengan aplikasi manusia. "Ini adalah jelas penting untuk memastikan bahwa setiap sperma yang dihasilkan aman dan menghasilkan keturunan sehat ketika digunakan, dan bahwa mereka pada gilirannya memiliki keturunan yang sehat. Kita perlu berhati-hati dengan pekerjaan semacam ini," jelasnya.

Minggu, 13 Maret 2011

Pria Kelahiran 1980 ke Atas Jumlah Spermanya Makin Sedikit

Produksi sel sperma para pria makin berkurang dari masa ke masa, diduga akibat peningkatan polusi yang mencemari makanan dan lingkungan. Dampaknya tidak hanya mengurangi kesuburan, tapi juga meningkatkan risiko kanker pada pria.

Penelitian yang dilakukan para ahli dari University of Turku di Finlandia menunjukkan, jumlah sel sperma pria mulai berkurang sejak akhir dekade 1970-an. Hanya dalam 10 tahun, jumlah sperma rata-rata yang diproduksi para pria mengalami penurunan sekitar 30 persen.

Penelitian yang dilakukan di Finlandia itu mencatat, jumlah sperma yang dihasilkan pria kelahiran tahun 1979-1981 masih sekitar 227 juta/ml. Pria kelahiran tahun 1982-1983 menghasilkan sperma 202 juta/ml, sementara yang lahir di atas tahun 1983 hanya menghasilkan 165 juta/ml.
Meski hanya dilakukan di Finlandia, hasil penelitian ini diyakini bisa menjadi indikator kesuburan pria di seluruh dunia. Pasalnya selama ini pria Finlandia dianggap paling 'jantan' dari sisi kesuburan, karena produksi spermanya rata-rata lebih banyak dibanding pria lain di dunia.

Selain mengamati produksi sperma yang makin sedikit, para peneliti juga melihat risiko kanker pada pria yang cenderung meningkat. Dibandingkan pada kelompok pria yang lahir di era 1950-an, kanker testis lebih banyak menyerang pria-pria yang lahir setelah tahun 1980-an.

Para ahli menduga, kedua hal ini disebabkan oleh polusi yang mencemari makanan dan lingkungan. Pencemaran yang terus meningkat dari masa ke masa memicu gangguan pada pertumbuhan janin laki-laki ketika masih berada dalam kandungan, khususnya yang terkait dengan sistem reproduksi.

"Berkurangnya produksi sperma dan meningkatnya risiko kanker testis terjadi bersamaan, sehingga diduga penyebabnya adalah pencemaran yang sebenarnya bisa dicegah," tulis Prof Jorma Toppari yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari BBC.

Prof Toppari menyarankan untuk menindaklanjuti temuan dengan studi investigatif untuk mengidentifikasi polutan apa saja yang memicu perubahan tersebut. Kelak jika sudah dipastikan penyebabnya, produksi sperma bisa dijaga agar tidak terus berkurang pada generasi berikutnya.

Pria Kelahiran 1980 ke Atas Jumlah Spermanya Makin Sedikit

Produksi sel sperma para pria makin berkurang dari masa ke masa, diduga akibat peningkatan polusi yang mencemari makanan dan lingkungan. Dampaknya tidak hanya mengurangi kesuburan, tapi juga meningkatkan risiko kanker pada pria.

Penelitian yang dilakukan para ahli dari University of Turku di Finlandia menunjukkan, jumlah sel sperma pria mulai berkurang sejak akhir dekade 1970-an. Hanya dalam 10 tahun, jumlah sperma rata-rata yang diproduksi para pria mengalami penurunan sekitar 30 persen.

Penelitian yang dilakukan di Finlandia itu mencatat, jumlah sperma yang dihasilkan pria kelahiran tahun 1979-1981 masih sekitar 227 juta/ml. Pria kelahiran tahun 1982-1983 menghasilkan sperma 202 juta/ml, sementara yang lahir di atas tahun 1983 hanya menghasilkan 165 juta/ml.
Meski hanya dilakukan di Finlandia, hasil penelitian ini diyakini bisa menjadi indikator kesuburan pria di seluruh dunia. Pasalnya selama ini pria Finlandia dianggap paling 'jantan' dari sisi kesuburan, karena produksi spermanya rata-rata lebih banyak dibanding pria lain di dunia.

Selain mengamati produksi sperma yang makin sedikit, para peneliti juga melihat risiko kanker pada pria yang cenderung meningkat. Dibandingkan pada kelompok pria yang lahir di era 1950-an, kanker testis lebih banyak menyerang pria-pria yang lahir setelah tahun 1980-an.

Para ahli menduga, kedua hal ini disebabkan oleh polusi yang mencemari makanan dan lingkungan. Pencemaran yang terus meningkat dari masa ke masa memicu gangguan pada pertumbuhan janin laki-laki ketika masih berada dalam kandungan, khususnya yang terkait dengan sistem reproduksi.

"Berkurangnya produksi sperma dan meningkatnya risiko kanker testis terjadi bersamaan, sehingga diduga penyebabnya adalah pencemaran yang sebenarnya bisa dicegah," tulis Prof Jorma Toppari yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari BBC.

Prof Toppari menyarankan untuk menindaklanjuti temuan dengan studi investigatif untuk mengidentifikasi polutan apa saja yang memicu perubahan tersebut. Kelak jika sudah dipastikan penyebabnya, produksi sperma bisa dijaga agar tidak terus berkurang pada generasi berikutnya.

Wow! Semburan Sperma Saat Ejakulasi Melebihi 40 Km/Jam!

Saat orgasme, alat kelamin pria mengalami kontraksi yang cukup kuat sehingga mampu menyemburkan sperma dengan kecepatan 48 km/jam. Namun begitu masuk vagina, sperma butuh waktu 3 hari untuk mencapai sel telur yang jaraknya hanya 15 cm.

Kuatnya semburan sperma saat ejakulasi dipicu oleh kontraksi otot di sekitar vas deferens atau saluran sperma. Sesaat sebelum orgasme, sperma lebih dulu dikumpulkan di sekitar pangkal penis, sehingga ketika waktunya tiba maka cairan putih kental itu akan menyembur dengan kecepatan tinggi.

Dr Trina Read, konsultas seks dari Society for the Scientific Study of Sexuality (SSSS) mengatakan semburan sperma memiliki kecepatan rata-rata 48 km/jam dan bahkan kadang-kadang mencapai 69,2 km/jam. Kecepatan ini jauh melebihi batas aman berkendara di dalam kota yakni 40 km/jam.

Kekuatan semburan sperma saat ejakulasi bisa melemah karena berbagai faktor, antara lain jarak waktu dengan ejakulasi sebelumnya. Makin lama diberi jeda, makin optimal kekuatan semburannya. Tentu saja, kualitas rangsangan dan kondisi kesehatan alat kelamin pria ikut mempengaruhinya.

"Usai ejakulasi, otot penis akan mengalami relaksasi sehingga ukurannya mengecil. Butuh jeda waktu yang disebut refractory period untuk bisa ereksi lagi, yang lamanya bervariasi pada setiap pria," ungkap Dr Read seperti dikutip dari situsnya, TrinaRead.

Meski menyembur dengan kekuatan tinggi, namun laju sperma langsung melambat begitu memasuki liang vagina. Untuk melewati serviks atau leher rahim yang jaraknya kurang dari 5 cm, sperma butuh waktu sekitar 5 menit dan bahkan butuh 72 jam untuk mencapai sel telur yang jaraknya hanya 15 cm.

Pria yang semburannya di bawah kecepatan rata-rata juga tidak perlu berkecil hati, sebab hal itu tidak mempengaruhi kemampuan untuk membuahi pasangannya. Kesuburan pria lebih ditentukan oleh motilitas atau kemampuan masing-masing sel sperma untuk terus berenang menuju sel telur.

Wow! Semburan Sperma Saat Ejakulasi Melebihi 40 Km/Jam!

Saat orgasme, alat kelamin pria mengalami kontraksi yang cukup kuat sehingga mampu menyemburkan sperma dengan kecepatan 48 km/jam. Namun begitu masuk vagina, sperma butuh waktu 3 hari untuk mencapai sel telur yang jaraknya hanya 15 cm.

Kuatnya semburan sperma saat ejakulasi dipicu oleh kontraksi otot di sekitar vas deferens atau saluran sperma. Sesaat sebelum orgasme, sperma lebih dulu dikumpulkan di sekitar pangkal penis, sehingga ketika waktunya tiba maka cairan putih kental itu akan menyembur dengan kecepatan tinggi.

Dr Trina Read, konsultas seks dari Society for the Scientific Study of Sexuality (SSSS) mengatakan semburan sperma memiliki kecepatan rata-rata 48 km/jam dan bahkan kadang-kadang mencapai 69,2 km/jam. Kecepatan ini jauh melebihi batas aman berkendara di dalam kota yakni 40 km/jam.

Kekuatan semburan sperma saat ejakulasi bisa melemah karena berbagai faktor, antara lain jarak waktu dengan ejakulasi sebelumnya. Makin lama diberi jeda, makin optimal kekuatan semburannya. Tentu saja, kualitas rangsangan dan kondisi kesehatan alat kelamin pria ikut mempengaruhinya.

"Usai ejakulasi, otot penis akan mengalami relaksasi sehingga ukurannya mengecil. Butuh jeda waktu yang disebut refractory period untuk bisa ereksi lagi, yang lamanya bervariasi pada setiap pria," ungkap Dr Read seperti dikutip dari situsnya, TrinaRead.

Meski menyembur dengan kekuatan tinggi, namun laju sperma langsung melambat begitu memasuki liang vagina. Untuk melewati serviks atau leher rahim yang jaraknya kurang dari 5 cm, sperma butuh waktu sekitar 5 menit dan bahkan butuh 72 jam untuk mencapai sel telur yang jaraknya hanya 15 cm.

Pria yang semburannya di bawah kecepatan rata-rata juga tidak perlu berkecil hati, sebab hal itu tidak mempengaruhi kemampuan untuk membuahi pasangannya. Kesuburan pria lebih ditentukan oleh motilitas atau kemampuan masing-masing sel sperma untuk terus berenang menuju sel telur.